Pages

Saturday, April 3, 2010

Dulu Gak Selalu Berarti Kini (PAST WILL NEVER MEANS THE PRESENT)


Dulu,...
Ku menangis dan dunia tertawa
Ku lemah dan engkau melindungiku
Kulucu dalam dekapanmu,
Namun, tak satupun kusadari semua itu....
Hanyalah cerita dongeng sebelum tidur


Long time ago...
I cried when the world laughed
I was weak and you protected me
I was adorable in your embrace
But, i never realized it all....
It's like another bed time story for me


Dulu,...
Yang kutahu hanya ketidakadilan
Kupahami makna 'tersisihkan'
Kukenal arti goresan luka di tubuh mungilku
Saat yang lain menari dalam kegembiraan,
Ku bingung dalam ketidakpastianku


Long time ago,....
All i knew was injustice
I was fulled with the word "left behind"
I acknowledged the scars on my tiny helpless body
When others joyfully danced,
I was trapped in uncertainty


Dulu,...
Kusesali hadirku di dunia
Tawa hanyalah selimut dari bekunya airmata
Sbab yang kutahu dari matamu
Hanyalah kebencian dan kemarahan
Tanpa pernah kutahu alasannya mengapa


Long time ago....
I regretted my presence in this world
Laughter was only the blanket to cover the frozen tears
For all i knew from your eyes
Were only anger & hatred
And i never know the reason why


Dulu,...
Kupunya seribu alasan tuk membencimu
Kupunya berjuta cara tuk tinggalkanmu
Oleh karena benih amarah dalam diriku
Yang slalu kau pupuk dengan suburnya
Oleh setiap makian & cemohanmu


Long time ago,....
I had thousands of reason to hate you
I had millions of ways to leave you
For the seed of bitterness were well-grown within me
Which you always fertilized it day by day
with all your harsh words


Namun, kini...
Kumenangis & meraung dalam nyanyian bumi
Saat kudapati ketidakberdayanmu hadapi waktu
Kelemahanmu meluluhkan benteng amarahku
Kepasrahanmu melayukan kembang dendamku
Yang kutahu sekarang hanya satu: KASIH.


But now,...
I cry & mourn with the earth song
As i gaze in your helplessness facing time
Your weakness is melting my fortress of anger
Your defenselessness is fading away my blossom grudge
All i know now is only one: LOVE


Hidup memang adalah sebuah misteri,
Tapi hati manusia jauh lebih misterius...
Dunia memaksaku tuk bekukan nurani
Mata ganti mata & gigi ganti gigi,
Namun takkan kubiarkan penderitaan membunuh nuraniku
Walau aku punya seribu alasan tuk memalingkan wajah
Tapi, justru melalui semua rasa sakit ini,
Aku akhirnya mengerti apa sebenarnya makna dari: "mengasihi"


Life is mystery indeed
But human heart is more mysterious of all...
World had been forcing me to freeze my conscience
An eye for an eye & a tooth for a tooth
But I won't let this misery to kill the love within me
Though i have many reasons to turn around & walk away,
It is only through these pains & hurts
I finally come to know what it means to "LOVE"

Bisu


Seraut wajah menunduk,...
Terkapar seribu tanya
Saat keraguan hilang dalam halimun
Teriakan ini berlalu dalam lembayung senja

Akankah semua ini nyata,...
Terduduk tanpa mengaharap
Nyanyian kegelisahan merdu mengalun
Membuai raga ke ilusi nirwana

Telaga hati riak bergelombang,...
Sengat mentari tidurkan bayanganmu
Tarian langkah seribu serdadu
Menenggelamkan jiwa yang berteriak

Seraut wajah seribu tanya,...
Tak lagi kulihat amarah menyala
Mengapa hati getir menyapamu
Saat langkahmu ringan & kosong

Friday, December 18, 2009

Potret Buram

Suatu ketika ada seorang ibu yang sangat berduka karena anak satu-satunya
mati.
Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk
meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.
Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam
kesedihan yang sangat mendalam,
bahkan sesekali ia meratap histeris.
Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk
akal, Sang Guru berujar:
“Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji
lada.”
“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.
“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya
belum pernah ada yang mati.”
Dengan “semangat menyala″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu,
hatinya sangat entusias,
“Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!”
Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah
saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda
memberikannya?”
“Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah.
“Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada
yang mati?”
“Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.”
Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang
tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.
Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati
bersedia memberikan biji lada untuknya,
tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian
sanak saudaranya.
“Ayah kami barusan wafat…,”
“Kakek kami sudah meninggal…,”
“Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…,”
dan sebagainya.
Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang
memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam
mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa
dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas
dari penderitaan.
Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan
batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih,
“Guru, saya akan menguburkan anak saya.”
Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.
Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali
anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya?
Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga?
Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu
mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak
terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?
Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa
dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas.

Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan
dua hal:
(1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan
(2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang
bersumber dari dalam diri kita sendiri....